Sepanjang tahun 2025, saya hanya menerbitkan satu tulisan di sini. Tahun 2025 menjadi tahun saya yang sangat tidak produktif dalam hal kepenulisan. Satu saja tulisan yang dibuat, pun hanya sekedar tulisan pendek, tulisan opini. Tapi tak apalah, tentu ada hal lain yang menggantikan waktu dan produktifitas saya karenanya. Alasan dimana ini menjadi tahun jungkir balik dengan masa-masa transisi peran lama dan peran baru yang saya emban. Segala yang baru, membawa ketidaksiapan dan kejutan-kejutan baru, bukan begitu?
Januari 2026 sudah berada di tengah-tengah. Sedikit terlambat menulis kaleidoskop seperti ini, jika fokusnya hanyalah momen pergantian tahun saja. Tapi rasanya tak lengkap kalau saya tidak menceritakan hal-hal yang terjadi setahun belakangan ini, pada saya, lingkungan saya, keluarga saya, maupun hal-hal di sekitar yang terkait dengan pengalaman saya. Setidaknya itu bagi saya, tentu saja. Tulisan seperti ini seringkali saya tempatkan menjadi memoar, paling tidak saya bisa membukanya kembali lain waktu ketika saya perlu untuk mengenangkan kisah-kisah yang terjadi dalam hidup yang pernah saya alami.
Bagaimana saya bisa mengingat-ingat banyak hal selama ini? Tentu saja tidak dengan mengandalkan ingatan otak semata. Saya masih butuh bantuan untuk mengingat-ingatnya kembali. Dengan cara apa? Akan saya beritahu di bagian akhir cerita ini.
Bulan ke-1 // Januari
"Selamat tahun baru, 2025..."
Setidaknya inilah yang diucapkan di hari pertama tahun berganti. Hari ini, langitpun sepertinya tak lupa mengucapkannya juga, dengan bahasanya sendiri. Langit biru cerah menyampaikan ucapannya di pagi saya berangkat bekerja.
Hari-hari di bulan ini menemani saya berangkat kerja dengan kesejukannya, tak terkecuali sawah-sawah yang saya lewati menuju tempat kerja. Padi-padi mungil dengan air permukaan yang memantulkan mentari pagi pun ikut menyapa saya. Rasa-rasanya, ini pagi yang menyejukkan...
Pada tanggal 18 Januari, kami pergi berlibur. Menjelang siang, berangkat menggunakan sepeda motor menuju Purwakarta untuk pergi ke tempat liburan kami. Tempat ini berada di tepi Waduk Jatiluhur. Berangkat dari rumah melewati Kota Purwakarta dan jalan-jalan desa serta tepi-tepi hutan, sampailah kami di tempat ini menjelang sore hari. "Parang Gombong", begitu nama tempatnya. Artinya apa? kami pun tidak tau. Ini tempat yang indah untuk menikmati sore. Tempat dimana terdapat padang rumput di tepian waduk sambil sesekali terlihat domba-domba dan kerbau-kerbau melintas menyantap rumputnya. Tempat yang sepertinya juga menarik untuk dijadikan camping ground guna berkemah bersama keluarga. Sore itu, Parang Gombong cukup ramai, terutama oleh muda-mudi yang sedang menikmati masa mudanya. Saya sempat menerbangkan drone untuk dibuat video dan saya upload di Saluran Youtube milik saya.
Kami pulang dari Parang Gombong menjelang maghrib. Sempat mampir di tempat makan untuk menikmati nasi goreng dan kwetiau yang katanya enak. Istriku dapat hacks dari internet kalau makan di tempat ini, minumnya pesan saja teh 1 gelas dan 1 gelas lainnya pesan es batu. dicampur dan bagi dua biar dapat dua gelas es teh, lebih efisien. hahaa...
Usai makan, perjalanan pulang menuju rumah dilanjutkan. Sekitar 1 jam sampai rumah untuk kemudian kami beristirahat.
Bulan ke-2 // Februari
Sepertinya tak ada cerita istimewa yang bisa saya ingat di bulan ini. Hari-hari berjalan seperti biasa, dengan suka duka yang juga biasa. Saya hanya ingat, pada bulan ini pernah di suatu sore bersama istri membeli mie mirip mie Gacoan di tempat makan pinggir jalan di kecamatan kami. Tempat makan ini belum lama buka. Semenjak awal buka, toko ini selalu sepi, mungkin segmen pasarnya saja yang kurang tepat jika buka di daerah yang notabene masih pinggiran. Sampai suatu hari saya melihat tempat makan ini tutup dan berubah menjadi lokasi bertuliskan SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi). Yah, setidaknya pernah merasakan makan di sana. Padahal menurut saya, tempatnya nyaman dan enak buat nongkrong. Lokasinya yang berada di pinggir sawah enak buat santai sambil ngobrol dan menikmati suasana.
Bulan ke-3 // Maret
Bulan Maret tahun ini bertepatan dengan datangnya bulan puasa (Romadhon). Ada rencana bersama teman-teman kuliah dari Bogor untuk kumpul dan berbuka puasa bersama.
Pada tanggal 8 Maret, saya bersama Ica menempuh perjalanan menuju Bogor. Perjalanan dimulai dari rumah kontrakan kami dengan mengendarai sepeda motor menuju Stasiun Cikarang. Sempat berhenti di minimarket untuk membeli minum dan melanjutkan perjalanan kembali. Perjalanan dari Stasiun Cikarang menggunakan KRL menuju Stasiun Manggarai. Ica sempat mengeluh badannya agak lemas hari itu, entah karena apa. Sampai Stasiun Manggarai, transit untuk berganti kereta tujuan Stasiun Cilebut di Bogor. Selama perjalanan, teman saya Veski mengabarkan akan menjemput di lokasi dekat Stasiun, tapi menyarankan kami naik angkot dulu menuju lokasi tersebut, karena jalanan depan stasiun begitu macet dan riuh. Sesuai sarannya, turun dari kereta, keluar stasiun dan naik angkot biru menuju tempat janjian bertemu. Bogor, yang juga dijuluki kota seribu angkot. Tak heran, angkot dimana-mana yang kadang berhenti tak kenal tempat dan membuat beberapa tempat menjadi macet.
Tak lama menunggu, tibalah Veski mengendarai mobil bersama istri dan anaknya, Ziandru namanya, Zizi panggilannya. (FYI, sebentar lagi Zizi bakalan punya adek. Semoga lancar semuanya yaa...). Waktu maghrib semakin dekat, kami langsung bergegas menuju rumah Om Arma, tempat kami berencana untuk berbuka puasa bersama. Mereka telah menunggu, termasuk istri dan anaknya, Bilal. Andini juga datang kali ini. Kesemuanya ada 9 orang, 7 orang dewasa dengan 2 anak kecil. Makanan berbuka kali ini cukup beragam. Ditambah kopi yang memang spesialisasinya Om Arma dan jajanan yang dibawa Andhini. Lebih penting dari itu, hal yang kami syukuri adalah masih bisa berkumpul diantara kesibukan kami masing-masing. Terima kasih Veski, Susan, Ziandru, Om Arma & Istri, Bilal, Andhini.
Hari sudah semakin malam dan acara dituntaskan. Kami diantar ke Stasiun Cilebut oleh Veski dan anak istrinya, khawatir ketinggalan kereta dan sampai di Subang terlalu larut malam, pikir kami. Saya dan Ica naik kereta dengan rute yang sama menuju Cikarang arah sebaliknya. Semoga bisa bertemu kembali yaa...
Perjalanan dilanjutkan dengan mengendarai motor menuju Subang. Sebentar lagi tengah malam datang. Jalanan diantara Purwakarta dan Subang berlubang di banyak tempat, beberapa diantaranya terhantam oleh motor kami. Beberapa kali pula saya menggeleng-gelengkan kepala. Ingin mengumpat, tapi buat apa... Ah, dasar...
Hari telah berganti, 9 Maret dini hari kami sampai di rumah. Istirahat, sebentar lagi pagi, kerja. Hari ini saya berangkat kerja seperti biasanya, tak ada yang berbeda. Hanya masih lemas dan mengantuk karena pulang dini hari tadi. Menjelang jam 13.00 siang hari, istri saya menghubungi. Kami mengobrol di telepon cukup lama, saya lupa apa yang kita obrolkan. Sampai di jam 13.01 ia mengirimkan foto lewat telepon.
"Alhamdulillahirobbil'alamiin..."
Kabar gembira dan mengagetkan datang ketika itu. Istri saya hamil. Setelah ikhtiar beberapa bulan ini menerapkan program kehamilan dengan berbagai macam cara, akhirnya ikhtiar dan do'a-do'a kami di ijabah Allah SWT. Malam harinya, kami mengobrol banyak hal tentang ini dan bagaimana hal-hal yang kita lakukan nanti. Sempat juga kami berkonsultasi dengan Mbak Laeli bagaimana dan apa yang perlu kami lakukan ke depannya.
Delapan hari kemudian, kami pergi ke dokter Spesialis Obgyn (Obstetri & Ginekologi). Mengatakan bahwa HPHT (Hari Pertama Haid Terakhir) istri saya adalah tanggal 1 Februari. Maka usia kandungan istri saya sudah 6 minggu. Hasil USG pertama menunjukkan bahwa HPL (Hari Perkiraan Lahir) adalah tanggal 08 November. Hari itu, saya sangat pelan sekali mengendarai sepeda motor. Takut kalau-kalau keguguran karena janin masih sangat kecil. Waktu di berkendara sepeda motor terasa lama sekali, seolah tidak sampai-sampai.
Trimester pertama kehamilan istri menjadi hari-hari yang penuh kesabaran. Ica sering lemas, lesu, dan sakit bawaan Utun. Sementara saya, berusaha memenuhi kebutuhannya yang termasuk ngidam bawaan hamilnya. Ternyata, orang ngidam itu permintaannya bermacam-macam ya... hahaa...
Pada tanggal 27-27 Maret, saya ditugaskan untuk mengambil sapi di daerah Pekalongan, Jawa Tengah. Ini adalah hari-hari di minggu terakhir menjelang lebaran. Nasib baik, letak desa tempat saya mengambil sapi lumayan dekat dengan rumah Ibu. Oleh karenanya, pada hari itu saya sempatkan pulang sebentar. Ketika bertemu Ibu, saya tunjukkan testpack garis dua dihadapannya. Ternyata beliau tidak paham dengan hal itu. Kemudian saya jelaskan pada Ibu bahwa menantunya sedang hamil, mengandung calon cucunya. Ucapan selamat dari kakak pun datang. Kami sempat video call dengan Istri saya yang berada di Subang. Sekalian, mengucapkan maaf karena Idul Fitri kali ini belum bisa pulang kampung dan merayakannya bersama Ibu. Kandungan di trimester pertama ini masih terlalu rentan untuk dibawa bepergian jauh.
31 Maret 2025, Hari Raya Idul Fitri pun datang. Lebaran pertama dalam peran saya sebagai suami, bersama istri saya, Ica. Beberapa tahun belakangan saya tidak merayakan lebaran di kampung halaman, ada pekerjaan di perantauan. Baru tahun ini berencana mudik, tapi kenyataan berkata lain. Rencana itu urung demi kesehatan Ibu dan janinnya. Rencana ditunda, tahun depan barangkali. Tapi, tentu saja ini salah satu Idul Fitri yang spesial...
Bulan ke-4 // April
April pun datang. Bulan ini, USG kedua di rumah sakit berbeda, dengan dokter berbeda.
Selain itu, tak banyak hal-hal yang bisa saya ingat bulan ini. Selain rutinitas bekerja dengan berbagai macam lika-likunya, seperti biasanya.
Bulan ke-5 // Mei
Mudik yang tertunda di Lebaran kemarin, kami ganti di bulan ini. Bulan ini usia kehamilan memasuki bulan ke-4, lewat trimester 1 sudah lebih aman pikir kami. Akhir Mei kami melakukan perjalanan pulang menuju Wonosobo naik bis Rosalia Indah. Bis berangkat malam hari menjelang jam 10 malam. Sampai bis berangkat, semua baik-baik saja. Setelah bis berjalan lebih dari 1 jam, Ica mulai muntah-muntah. Mabuk perjalanan nya kambuh lagi. Seperti perjalanan menggunakan bis di tahun lalu, sepanjang jalan ia muntah sampai isi perutnya banyak yang keluar. Ia mengatakan sudah tidak tahan dan ingin lekas turun, ia kesakitan. Saya meyakinkannya untuk coba bertahan dan sabar barang sebentar. sampai suatu waktu, saya memutuskan untuk kita berhenti di Bumiayu. Dini hari kami turun di dekat terminal Bumiayu. Turun dan langsung dihampiri oleh ojek disana. Naik ojek dua motor menuju Rumah Sakit Siti Aminah, tempat yang sama ketika tahun lalu kita turun karena sakit yang sama pula. Keadaan kepepet seperti ini, tukang ojek mematok tarif tak sewajarnya, ah... sudahlah... Kami pun sampai di rumah sakit dan masuk ke ruang IGD untuk penanganan lanjutan. Tidak seperti tahun lalu, kali ini kami diharuskan rawat inap setidaknya 3 hari di sini. Alamat hari libur berkurang tiga hari. Yah, anggap saja sedang wisata kesehatan dan menginap di penginapan secara gratis,
dan USG gratis.
Bulan ke-6 // Juni
1 Juni di malam hari sebenarnya adalah tasyakuran 4 bulanan usia janin kami. Salah satu alasan kami pulang kali ini adalah karena ingin mengadakan tasyakuran tersebut di Wonosobo. Namun karena masih berada di rumah sakit, acara malam itu berjalan tanpa kami. Kami hanya mendapatkan video berlangsungnya tasyakuran dari kakak saya. Esok paginya, setelah beberapa hari perawatan, Ica sudah diijinkan pulang. Pagi itu kami keluar dari rumah sakit, sarapan sambil menunggu mobil travel tujuan Purwokerto yang sudah saya pesan. Selang beberapa waktu, tibalah mobil tersebut dan berangkatlah kami menuju Purwokerto.
Purwokerto menuju Wonosobo menggunakan mobil dari agen travel yang berbeda. Saya ingat, kami sempat beli siomay di depan agen sembari menunggu mobil datang. Siomaynya murah, jauh lebih murah daripada di Subang.
Siang menjelang sore, sampailah kami di kota tercinta, Wonosobo. Beginilah perantau, pergi mencari rejeki sambil tetap merindu kampung halaman, menunggu momen-momen seperti ini selalu.
Selama berada di Subang, Ica seringkali berujar bahwa kalau nanti ke Wonosobo, ingin pergi ke tukang pijat. Ia sampaikan berkali-kali keinginan ini. Oleh karena itu, bertanyalah kami kepada kakak, tentang Mbah tukang pijit yang dulu memijatnya ketika hamil. Maka kami pergi ke sana diantar kakak. Lega rasanya sudah bisa pijat ibu hamil di Mbah. Kami diberi rengginang di sana, rengginangnya enak.
Selama di Wonosobo, kami sempatkan nongkrong bareng teman-teman lama. Ada tujuh orang yang datang berkumpul di sebuah coffee shop bernama "de Koffie" malam itu. Saya dan Ica undur diri lebih awal karena Ica merasakan mualnya kambuh. Gejala trimester pertama memang belum selesai sepertinya. Paling tidak dalam pertemuan singkat itu, beberapa hal sudah kami bagi dalam beberapa cerita dan obrolan. Terima kasih untuk kumpul-kumpul dan sharingnya Heru, Doni, Intan, Mbak Uun, & Kikik.
9 Juni, hari ulang tahun Ica. Pukul 6 pagi, saya bersama kakak dan keponakan memberikan kejutan kecil-kecilan. Memperingati bertambahnya usia istri saya.
Pagi menjelang siang di hari yang sama, kami pergi ke kebun teh di daerah Bedakah. Refreshing, mumpung masih di Wonosobo dengan segala macam kesejukan dan udara bersih pegunungannya. Sambil foto ala-ala, anggap saja sedang foto post wedding. Seingat saya, kami disana juga membeli es krim 3 rasa dengan warna coklat, pink dan putih. Makan es krim di daerah berhawa dingin itu rasanya waaahh...
Sementara Ica tinggal di rumah, saya bersama Ibu menyempatkan diri ziarah di makam almarhum Bapak. Sosok yang membawa saya untuk bisa menyelesaikan studi sampai Strata-1. Orang yang mampu dan mau mendengarkan ucapan saya lebih dari orang lain di lingkungan dekat saya. Seorang berjiwa besar dengan mental yang kuat menghadapi berbagai macam problematika dari luar dan dalam. Saya seringkali terharu mengenangnya, pun ketika membuat tulisan ini.
Saya sulit membayangkan berada di posisi Ibu. Ibu menjalani usia tua tanpa sosok seperti Bapak, pasangan hidupnya. Sekalipun semasa hidup beberapa pertengkaran dan ketidakselarasan pikiran terjadi, rindu setelah ditinggal pasti ada. Bertahan di usia tua sambil mendengar kabar duka dari saudara dan teman-temannya. Andai saya yang berada di posisi itu, entahlah... seberapa kesepiannya saya. Semoga Ibu selalu sehat dan panjang umur, sekalipun sebagai perantau hanya mampu bertemu sesekali saja dengan beliau. Bapak, bagaimana disana?
Kami mengunjungi beberapa tempat di Wonosobo. Keindahan alamnya tak terbantahkan. Membawa hati untuk terus pulang dalam masa-masa selama di perantauan. Kesejukan dan keramahtamahan sosialnya tentu menjadi nilai lebih. Hawa dinginnya terasa, seringkali membawa kesejukan bagi kami yang harus tinggal di kota jauh perantauan.
Hari kepergian kembali ke perantauan pun tiba. Kami mengendarai motor menuju terminal bis dalam kondisi hujan deras. Sesampainya di terminal, beberapa bagian dari pakaian kami basah. Bis berangkat sore hari, dan kami hampir telat. Untunglah masih bisa terkejar, meskipun beberapa telepon datang dari agen bis selama kami dalam perjalanan ke sana. Sepeda motor saya titipkan di agen bis di terminal yang kemudian diambil oleh keponakan dan kaka saya. Kalau tidak begini, sudah pasti saya akan telat. Kami pun berangkat sore itu.
Bis sampai di Kalijati, Subang menjelang pukul dua dini hari. Hari sebelumnya, saya meninta tolong teman saya, Novan untuk menjemput kami disana. Setelah menunggu beberapa waktu di warung pinggir jalan yang sepi, datanglah Novan dengan mobilnya. Kami pun diantar olehnya agar segera bisa beristirahat. Terima kasih, Novan...
Akhir Juni, pagi di Subang sedang cantik-cantiknya...
Bulan ke-7 // Juli
Setelah satu tahun lebih menempati kontrakan, pertengahan bulan ini kami pindah tempat. Berkemas dan menata barang yang semakin hari semakin banyak memang cukup menguras tenaga. Untungnya, barang-barang tersebut sudah diangkut sebagian sebelum pulang ke Wonosobo. Kali ini, tinggal sisanya saja, sambil bersih-bersih rumah yang akan ditinggalkan. Hari itu, kami pamit ke tetangga sebelah rumah, juga Bapak dan Ibu RT. Kami pindah ke rumah yang ada di dalam area tempat kerja, jadi saya lebih dekat berangkat kerja. Sampai jumpa kontrakan lama...
Bagian selanjutnya yang tak kalah melelahkan adalah membongkar dan menata barang-barang yang masih acak-acakan. Sekaligus memasang gorden, bersih-bersih, dan merapikannya. Hal yang menyenangkan dari pindah rumah adalah suasana barunya. Hal-hal yang menyebalkan adalah mengemasi barang dan menatanya kembali.
Setelah kembali dan menempati rumah saat ini, kami mencari kucing yang kami tinggal di area tempat kerja sebelum berangkat ke Wonosobo. Lama mencari dan tidak ketemu juga. Kami anggap hilang sudah kucing kami ini. Suatu ketika kami pergi ke pasar, kami mengambil kucing kecil yang kebetulan ada di bawah motor yang saya parkir. Kata tukang parkir, ini betina bagus. Tapi ternyata ia anak kucing berkelamin jantan. Alasan kami membawanya adalah karena corak dan warna bulunya mirip dengan kucing kami sebelumnya. Cepat sekali dia akrab dengan kami. Beberapa hari setelahnya, kucing lama kami berkunjung ke area dekat rumah. Sikapnya berubah, takut dan menghindari manusia. Tapi yang mengejutkan, ia menjadi begitu gemuk setelah sekian lama. Kucing baru kami yang membantu meyakinkannya untuk kembali. Akhirnya, kucing lama kami kembali dan sekarang kami memelihara dua ekor kucing jantan. Na'asnya, beberapa hari kemudian, anak kucing yang kami ambil di pasar ketika itu, mati karena keracunan. Ada tiga ekor kucing mati keracunan di tempat itu, satu yang kami pelihara setelah memungutnya di pasar dan dua kucing liar. Syukurnya, kucing lama kami tidak ikut keracunan. Setelah itu, kami mengubur ketiganya.
Bulan ke-8 // Agustus
Bulan ini menjadi bulan yang menyenangkan. Banyak hal saya lakukan, banyak tempat kami kunjungi. Bulan ini pertama kalinya kami berdua mencoba membuat nastar dengan oven yang sebenarnya sudah kami beli sebelum pulang ke Wonosobo.
"Ah, bentar lagi mau ditinggal pergi dan pindahan, nanti saja pakainya," pikir kami waktu itu. Percobaan pertama, trial error, maklum kalau hasilnya belum sempurna. Rasanya enak, hanya bentuknya saja yang jauh dari kata komersial. Campuran bahannya pun masih perlu banyak perbaikan. Nastar yang kami buat adalah nastar isi selai nanas, nastar isi coklat, serta nastar topping cengkeh. Lain waktu, kami membuat lagi. Memang masih perlu jam terbang sepertinya. Pun kami tidak memakai butter mahal semacam Wijsman. Percobaan pertama memakai unsalted butter merek Anchor, yang kedua pakai yang lebih murah merek Hollmann.
Pertengahan bulan ini kami mengunjungi tempat yang sedang viral karena dekat rumah gubernur Jawa Barat yang baru terpilih. Tempatnya bernama Lembur Pakuan. Sebenarnya tempat ini berada dekat dengan tempat tinggal kami, tapi kami baru kesana sekarang. Memang area sekitar Lembur Pakuan bersih dan tertata rapi. Ada juga taman dan area pertunjukan, mungkin untuk teater atau pertunjukan seni budaya sunda. Tempat yang juga indah untuk kami kunjungi adalah area sawah dengan jalan yang tertata rapi. Sore menjelang maghrib, matahari terbenam memberikan panorama indah ketika itu.
Awal bulan Februari kemarin saya mendaftar les Bahasa Inggris di suatu tempat kursus. Kursus dua kali seminggu, di hari Kamis sore dan Selasa Malam. Bulan ini, syukurlah saya bisa menyelesaikannya dengan nilai ujian yang cukup baik. Meskipun sejujurnya, saya merasa kemampuan bahasa inggris saya masih jauh dari kata mahir atau baik. Saya masih perlu belajar memperdalamnya kembali di luar kursus. Terlebih, kosakata bahasa inggris saya, masih sangat miskin.
Akhir bulan ini saya dan istri pergi travelling. Rencana ini sudah lama dibicarakan, tiket kereta sudah dipesan, hari keberangkatan pun tiba. Kami berangkat dari rumah menuju Stasiun Pegaden Baru, Subang. Perjalanan dari sini menggunakan KA Eksekutif Bangunkarta menuju Stasiun Tugu, Yogyakarta. Ini pertama kalinya kami naik kereta eksekutif jarak jauh, selain karena istri yang sedang hamil, apa salahnya sesekali mencoba? Pengalaman pertama tak pernah bisa diulangi, bukan?
Siang itu, kami check in di pintu masuk dan kereta berangkat jam dua siang. Lagi-lagi untuk pertama kalinya, kami mencoba memesan makanan dan duduk-duduk di gerbong restorasi. Saya memesan minuman panas (seingat saya cokelat panas) dan Ciomy (cuanki kuah). Makanannya enak, memang sebelumnya saya mencari rekomendasi di media sosial.
Pukul delapan malam, sampailah kereta di Stasiun Tugu, Yogyakarta. Rencana lanjut kereta KRL jurusan Stasiun Palur, tapi kami terlambat. Akhirnya, menunggu keberangkatan KRL berikutnya pukul setengah sepuluh. Perjalanan menuju Stasiun Palur sekitar satu setengah jam dan sampailah kami menjelang jam sebelas malam. Mas Luqman, suami Mbak Laeli menjemput kami dengan mobil Panther kesayangannya menuju Sragen. Kami memang hendak menginap di rumah Mas Luqman dan Mbak Laeli, sebab beberapa hari kedepan akan wisata bersama.
Selama di Sragen, kami diajak touring ke beberapa tempat oleh mereka. Kedua anak mereka, si kakak yang cantik dan si adek bayi yang ganteng, Nafia dan Rasyid/Bara ikut dalam perjalanan kali ini. Kuliner, tentu saja hal satu ini tidak boleh tertinggal, wajib. Mencoba makanan khas setempat yang rasanya lumayan enak. Soto Cimplis, selat solo, sup matahari, juga gado-gado di tempat-tempat yang Mbak Laeli sudah paham yang rasanya direkomendasikan. Inilah peran warga lokal sesungguhnya, hidden gem yang tak diketahui pendatang seperti kami pun terjamah karenanya.
Selain kuliner, kami diajak pergi ke Telaga Sarangan. Melewati jalan berlika-liku menanjak di Karanganyar. Hawa sejuk dengan hujan yang datang dan pergi serta melewati kabut di perbatasan Jawa Tengah-Jawa Timur mewarnai perjalanan kami. Jalan menuju Telaga Sarangan, bila dibandingkan dengan jalan di Puncak, Bogor atau Lembang di Bandung Barat yang pernah saya lalui, jalan ini lebih menyenangkan untuk di eksplorasi. Jalannya lebih teratur, sepi, tidak macet, dan tampak mulus untuk sebuah jalan di area pariwisata pegunungan. Saya pun baru tahu, ternyata lewat jalan ini pula lah base camp Pegunungan Lawu berada. Momen ini menjadi kali pertama bagi saya menjamah Kabupaten Magetan, sekaligus kali pertama bagi Ica menginjakkan kakinya di Jawa Timur.
Tiga hari dua malam kami menginap di rumah Mbak Laeli dan Mas Luqman. Hari itu, kami berpamitan untuk melanjutkan travelling kami menuju Yogyakarta. Setelah selesai persiapan dan berpamitan, kami diantar menuju Stasiun Sragen untuk melanjutkan perjalanan menggunakan kereta. Terima kasih Mbak Laeli, Mas Luqman, Nafia yang cantik, dan Rasyid/Bara yang ganteng.
Pukul satu kurang seperempat, kereta berangkat menuju Stasiun Solo Balapan dengan durasi perjalanan setengah jam. Kali ini, kami menggunakan KA Bias relasi Madiun-Solo. Transit dan menunggu kereta sebentar di Stasiun Solo Balapan, lanjut menggunakan KRL menuju Stasiun Tugu, Yogyakarta. Guna berkeliling Yogyakarta, kami rental sepeda motor untuk beberapa hari ke depan, informasi rental ini kami dapat dari media sosial. Sesampainya di stasiun, kami menuju penginapan di dekat kampus UGM dengan sepeda motor yang kami sewa.
Hari pertama di Yogyakarta, kami mendapat kabar kurang menyenangkan terkait kondisi di beberapa wilayah di Indonesia, termasuk di Yogyakarta. Waktu itu, sedang ada demo besar-besaran di berbagai tempat. Beberapa tempat chaos, terjadi pembakaran, dan beberapa orang meninggal dilaporkan dan beritanya berseliweran di internet. Penginapan kami, masuk di Zona merah karena insiden di kantor POLDA DIY, dimana ada korban meninggal dunia karena insiden yang serupa dari beberapa tempat.Kami hanya berharap, semoga segera mereda dan semua kembali baik-baik saja.
Bulan ke-9 // September
Selama di Yogyakarta, kami mengunjungi beberapa tempat yang masih terjangkau di sekitaran area Kota Yogyakarta. Kondisi istri yang masih hamil tidak memungkinkan pergi terlalu jauh dari area kota dan penginapan, seperti Gunung Kidul maupun tempat-tempat jauh lain. Meski sebenarnya kami pun ingin menikmati sunset pinggir laut. Lain kali saja barangkali.
Kami mengunjungi beberapa tempat, diantaranya adalah Malioboro, Pasar Ngasem, Taman Sari (pagi itu masih tutup, jadi kami tidak masuk), Buku Akik, dan tempat-tempat lainnya.
Selain tempat-tempat tersebut, beberapa tempat makan pun kami kunjungi. Pagi menjelang siang, kami makan ramen di Golden Geisha, Jalan Magelang dan Kopi Klotok, Jalan Kaliurang. Malam hari, kami sempat mencoba Bakmi Jawa Cokrodiningratan dan makan sambil bertemu teman kami, Intan di Trilogi Coffee, Jalan Palagan Tentara Pelajar.
Usai sudah liburan kami di Yogyakarta. Hari itu, kami berkemas dan mengembalikan sepeda motor sewaan di depan Stasiun Tugu, Yogyakarta. Perjalanan dilanjutkan menuju Stasiun Solo Jebres menggunakan KRL. Kereta yang akan kami tumpangi menuju Subang adalah KA Brantas Ekonomi New Generation. Ini pertama kalinya saya naik KA Ekonomi New Generation, gerbongnya rapi, kursinya nyaman, tidak jauh berbeda dengan KA Eksekutif sebenarnya. Kereta berangkat menjelang pukul setengah enam sore itu.
Bulan ke-10 // Oktober
Tak ada cerita terlalu banyak bulan ini. Hanya ada kabar buruk bahwa smartphone saya jatuh ke jalan cor dan LCD luarnya retak. Syukurlah masih bisa digunakan, jadi cuma saya ganti tempered glass nya saja. Saya berpikir, akan sangat mahal kalau harus mengganti LCD nya.
Selain cerita tentang LCD retak, ada juga perayaan kecil-kecilan ulang tahun saya dengan kue yang dibuat oleh istri saya. Alhamdulillah, masih diberi kepercayaan untuk menjalani kehidupan.
Usia kehamilan semakin tua, mendekati HPL tanggal 8 November. Kondisi Hb rendah Ica masih belum terselesaikan. Oleh karena itu, kami meminta rujukan dari Faskes I ke dokter spesialis penyakit dalam dan dokter obstetri ginekologi. Sekarang, penanganan pindah dari puskesmas ke rumah sakit.
Bulan ke-11 // November
Bulan ini adalah bulan perkiraan lahir anak pertama kami. Ibu datang dari Wonosobo sejak awal bulan untuk membantu dan menemani menantunya. Sekaligus ingin menyambut cucu barunya nanti. Sampai pada HPL yang ditentukan, istri saya tak kunjung mendapati kontraksi, padahal ia sudah sering mengeluh perutnya sakit. Kontraksi palsu datang berkali-kali. Kami rutin cek kandungan ke dokter Sp.Obgyn. Memasuki usia kehamilan 42 minggu berdasarkan HPHT, pemeriksaan dilakukan oleh dokter dan dikatakan bahwa janin masih jauh dari jalan lahir. Maka kami diberi dua pilihan, ingin induksi atau operasi caesar (SC). Oleh karena itu dengan segala pertimbangan, kami memutuskan untuk Ica menjalani operasi caesar saja. SC pun dilakukan 2 hari setelah pemeriksaan terakhir kami sebelum kelahiran.
Malam hari kami menuju rumah sakit untuk persiapan rawat inap. Saya, Ibu, dan Ica ditempatkan di ruang VIP malam itu. Ica diberi arahan untuk puasa makan dan minum minimal 6 jam sebelum operasi. Pagi harinya, ia dibawa ke ruang operasi. Saya dan Ibu menunggu di depan ruang operasi.
Beberapa jam kemudian lahirlah anak kami yang pertama, anak laki-laki. Bayi kami dibawa ke ruang pemeriksaan sementara waktu, dan saya diberi arahan oleh bidan yang membawanya. Selang beberapa lama, Ica keluar dari ruang operasi dalam keadaan menggigil. Ia nampak kedinginan, ruang operasinya sangat dingin katanya. Ia berceriita tentang bagaimana suasana di dalam ruang operasi, juga menanyakan bagaimana keadaan bayi yang dilahirkannya.
Ini menjadi momen mengharukan dan membahagiakan bagi kami. Setelah melalui proses panjang selama 42 minggu dengan segala pahit manisnya, akhirnya anak kami pun lahir. Suka duka, tangis tawa, senang sedih, dan saling menguatkan datang silih berganti.
"Alhamdulillah, Allah telah mempercayakannya kepada kami menjadi orang tuanya."
" Selamat datang ke dunia, anak Ibu & Bapak..."
"Selamat menjalani hidup barumu..."
"Belajar bareng-bareng yaa. Engkau dengan dunia barumu dan kami dengan peran baru sebagai orang tua bagimu."
Bulan ke-12 // Desember
Bulan ini, Mbah meninggalkan cucunya untuk pergi ke Ciledug, Tangerang. Ada acara peringatan 1000 hari meninggalnya adiknya. Akhirnya, Mbah pun pergi ke Ciledug untuk selanjutnya pulang kembali ke Wonosobo.
Epilog
Usai sudah 2025 berjalan. Hari demi hari memang tidak serta merta berjalan mulus. Selalu saja ada lika-liku yang membuat kita sesekali senang, sesekali kaget, kadang tidak siap, kadang seperti mendapat kejutan, kadang ingin putus asa saja, atau kadang memberi semangat baru untuk selalu bertahan hidup. Lagipula, apa enaknya hidup yang lurus-lurus saja? Bukankah kejutan-kejutan kecil itulah yang membuat kita tidak mati dalam kebosanan? Hal-hal baru selalu memberi kita perspektif baru, rasa-rasanya. Apapun yang terjadi. tetaplah bertahan dan berusaha menjadi lebih baik dari yang sebelum-sebelumnya.
Tahun 2026, entah akan jadi tahun seperti apa. Kejutan apalagi yang akan datang? Hal-hal baru apalagi yang akan terjadi? Peran manalagi yang perlu kita mainkan? Semoga semua mampu kita lewati dengan cara terbaik yang kita bisa. Tentu dengan ridho dari Allah SWT karena kita makhluk ber Tuhan yang tak lepas dari segala keputusan-Nya, tanpa menafi'kan posisi kita sebagai hamba, sebagai manusia, sebagai makhluk ciptaannya.
"Aamiin yaa robbal'alamiin..."
Mari sama-sama berdo'a.
Oiya, saya sebutkan di awal tentang bagaimana saya mengingat-ingat banyak hal, bukan? Tentu saya tak akan mampu mengingat-ingat itu semua tanpa bantuan. Saya sadar diri sebagai manusia yang penuh dengan keterbatasan. Oleh karena itu, saya memanfaatkan bantuan teknologi. Foto-foto di atas lah yang membantu saya. Foto-foto yang saya simpan di penyimpanan Cloud di Google Foto. Jadi menurut saya, tak mengapa kalau kita mesti eksis mengambil foto maupun video setiap saat. Mengabadikan momen-momen yang kita alami dan menyimpannya di sini. Kita melakukannya bukan untuk menyombongkan diri atau sekedar pamer untuk mendorong rasa iri sesama. Namun, kita melakukannya untuk menyadari keterbatasan kita. Juga rasa sayang kita pada waktu dan kejadian-kejadian yang tak mungkin terulang kembali. Lagi-lagi, segala sesuatu bergantung pada niatnya, kan? Kan begitu?
"Innamal a'malu binniyat..."
FYI, sebagai seorang Bapak, saya pun membuatkan akun Google untuk anak saya. Paling tidak, saya bisa menyimpan foto-fotonya di Google Foto agar dia bisa melihat bagaimana ia di masa lalu. Kalau sudah waktunya, biar dia yang melanjutkan ceritanya sendiri. Dan yaa, semoga saya bisa menjalankan peran baru saya dengan sebaik-baiknya.
Tak peduli siapa saya, tulisan saja tak dapat mewakili tentang saya.
Mengenal lebih dekat, itu artinya mengetahui lebih banyak tentang saya dengan cara mengakrabkan diri dan memaknai sebuah hubungan lebih dalam.
Bahkan, saya sendiri belum sepenuhnya tahu seperti apa dan apa yang masih terpendam dalam diri ini.
Yang jelas, inilah saya dengan kelebihan dan kekurangannya.
Suka maupun tidak suka.
0 Komentar