Ketidakpastian menjadi teman terdekat manusia. Lebih banyak teman seperti ini. Kepastian hanya ada dalam masa lalu. Bahkan, sekalipun engkau melihat sebuah surat wasiat ataupun surat sumpah yang dibubuhi materai, ditandatangani, dan di cap instansi besar sekalipun. Tak ada yang mampu memastikan bahwa surat itu dengan pasti dan benar akan dijalankan tanpa adanya aturan-aturan yang dilanggar. Itu hanya memberikanmu beberapa kelegaan, dengan masih membawa keraguan yang dibubuhi rasa cemas, ditandatangani spekulasi, dan distempel dengan cap "kalau-kalau".
Benar kan apa yang kukatakan? Sudah berapa banyak peristiwa membuatmu yakin dengan pasti? Nah, sudah berapa banyak dari keyakinan itu yang dilanggar oleh apapun yang di dalam maupun di luar dirimu? Setiap dari kita punya jawabannya masing-masing, yang pasti berbeda. Mungkin tidak secara kuantitas, namun secara kualitas.
Kau ingat, ketika dulu sebelum kau dilahirkan kau berkata : "Balaasyahidna..." dan dari itu, beberapa pelanggaran kesaksianmu yang entah besar entah kecil kau lakukan. Yaah, seperti itulah ketidakpastian. Bisa datang dari luar atau dari dalam diri, dari arah manapun dalam situasi apapun. Juga dalam tempo yang lambat ataupun tempo yang sesingkat-singkatnya. Maka semakin lama, kita seharusnya semakin terlatih dengan hal-hal demikian. Bahwa yang pasti adalah masa lalu, yang perlu kita akui, tak dapat dirubah sama sekali. Yang datang kemudian, tidak pasti-pasti amat. Jadi yo, kuncinya bukan di seberapa besar kesempatan kita untuk mendapatkan kepastian atas suatu hal. Akan tetapi, akan seperti apa kita mengupayakan diri menuju kepastian yang diharapkan, sembari mempersiapkan diri dan "harap maklum" atas ketidakpastian yang mungkin akan datang kemudian.
Eh... tapi ada lho, satu kepastian yang benar-benar pasti ada di masa depan.
Kau tahu? Yap, "KEMATIAN"
Untuk yang satu ini, siap-siap yaa... Yang pasti, waktunya pasti kita tidak tahu pasti.
Sudah sana, siap-siap.
Subang, 16 Juni 2021 16:59
0 Komentar